Hadits ke-35 Arba'in An-Nawawiyah,,Part 1

Pemateri: ust. Yusran Anshar, Lc.
Tempat : Masjid An-Nur
Waktu: 22 Desember 2010

Hadits ke-35
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”.



Hadits ini membahas masalah ukhuwah (persaudaraan). Ukhuwah sangat erat hubungannya dengan akidah. Ukhuwah juga berhubungan dengan keimanan. Ukhuwah yang menyatukan suku bangsa maupun golongan. Ukhuwah merupakan masalah yang pokok dalam Islam. Ukhuwah dalam Islam ialah ukhuwah yang sangat mulia.

2 Hal dalam berukhuwah
A. Meninggalkan hal-hal yang bias memutuskan ukhuwah
B. Melakukan amalan-amalan yang bisa memperkuat ukhuwah

- Al-Hasad
Para ulama mendefinisikan hasad yakni, keinginan untuk perginya nikmat dari saudaranya. Hasad merupakan dosa yang paling pertama dilakukan dilangit maupun dimuka bumi, dilangit yakni iblis terhadap Nabi Adam, sedangkan dibumi ialah pembunuhan yang dilakukan oleh anak dari Nabi Adam.

Jenis-Jenis Hasad

a. Dimana seseorang ingin nikmat yang ada pada saudaranya hilang dan mengharapkan nikmat tersebut pergi kepada dirinya.
b. Seseorang yang mengharapkan hilangnya nikmat pada saudaranya tanpa mengharapkan nikmat tersebut. Jenis ini lebih berbahaya daripada yang pertama, sebagaimana hasadnya iblis terhadap Nabi Musa.
c. Hasad itu timbul, namun ia tidak sampai mengungkapkan (Cuma dalam hati saja)
d. Hasad muncul, dan kita cemburu terhadap mereka, namun dia kemudian sadar dan berusaha menghilangkannya, bahkan berusaha untuk mencintainya.
e. Seseorang yang melihat nikmat, kemudian ia juga ingin memiliki tanpa berharap agar hilang nikmat pada saudaranya (Al-Gibthoh). Terbagi menjadi 2 hal:

    * Secara umum tidak diharamkan
    * Kalau masalah akhirat, maka sangat dianjurkan, tapi kalo masalah duniawi, maka ia tak akan mendapat pahala, bahkan jika sampai berlebihan, dia akan menjadi hina.

Hasad yang diharamkan, menimbulkan kemudharatan, yakni:

1. Orang hasad adalah pengikut Iblis laknatullah
2. Seakan-akan menuduh Allah tidak adil dan tidak tepat memberikan rezki
3. Merusak hubungan yang paling erat, bahkan nasabpun bias rusak, karena hasad ini. Sebagaimana yang menimpa pada keluarga Nabi Adam dan Nabi Ya’kub.

Cara mencegah penyakit hasad
1. Dengan mengingat bahwa semua ini adalah pengaturan dari Allah. Yang terbaik ialah yang Allah pilihkan buat kita, dan ketika melihat kelebihan orang lain, maka itulah yang terbaik baginya.

2. Mengetahui keutamaan orang yang tidak mempunyai sifat hasad, yaitu dengan balasan surge. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”

Esok harinya, Rasulullah SAW. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.

Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?”

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidulah Abdullah di rumah orang itu selaga tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.

Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata, Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”

Lalu orang itu berkata, “Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan”. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.” Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan

0 komentar:

Poskan Komentar