Bolehkah mengucapkan "Shadaqallahul adzim" setelah membaca Al-Qur'an?

Assalamu'alamu'alaikum, kaifa khaluk? La'allakum khair.
Saya yakin, pasti Kita sudah tak asing lagi dengan ucapan shadaqallahul 'adzim, yupi, betul skali, kita sering dengar, bahwa mayoritas kaum muslimin mengucapkan lafadz ini setelah membaca Al-Qur'an, dan arti kalimat tersebut sungguh bagus, yakni "Benarlah apa yang difirmankan Allah Yang Maha Agung."
Tapi bagaimana dengan hukumnya membaca kalimat tersebut setelah membaca Al-Qur'an. Coba kita perhatikan beberapa hadits dibawah ini:


1. Dari Ibnu Mas'ud ia mengatakan,“Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup”.

2. Dari sahabat Anas bin Malik –radiyallahu anhuma- ia berkata, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , ”(Allah menyuruh engkau untuk membacakan ayat tersebut dengan) menyebut (nama)ku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”. (HR. Bukhari dan Muslim
Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat itu.

3. Dari sahabat Raafi’ bin Al Ma’la –radiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda“Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari)
Beliau tidak mengatakan “sodaqollahul adzim”.

4. Dari sahabat Baro’ bin ‘Ajib berkata,“Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “sodaqollahul adzim”.

Dari beberapa hadits diatas, telah jelas bahwa tidak pernah ada contohnya dari Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidak ditemukan pula para Sahabat, Tabi'in maupun Tabi'ut Tabiut Tabiin mengucapkannya setelah membaca Al-Qur'an.

Adapun jika kita mengucapkannya karena  kita melihatnya langsung saat itu  tanda-tanda Kekuasaan Allah, seperti contohnya dalam surah Al-An'am : 99.
"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman."

Maka tidak mengapa kita mengucapkan Shadaqallhu' adzim

Coba perhatikan pula ayat berikut.
“Katakanlah:"Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. 3:95)

Jadi dapat disimpulkan bahwa mengucapkan "Shadaqallahul adzim" adalah diperbolehkan jika kita melihat suatu kejadian, kemudian kejadian itu telah disebutkan dalam Al-Qur'an. 

Namun jika kita menyatakan bahwa keharusan dalam setiap selesai membaca Al-Qur'an, atau dianjurkan untuk mengucapkannya setelah membaca Al-Qur'an, maka harus ada dalil yang mensyari'atkannya. Dan andaikan mengucapkannya setiap setelah membaca Al-Qur'an itu baik, tentulah orang-orang yang terbaiklah yang mendahuluinya, yakni Para Sahabat, Tabi'in maupun Tabi'ut Tabi'in. Sebagaimana Hadits berikut.
“Sebaik-baik manusia adalah pada masa kurunku (generasiku), kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya “(HR. Bukhari-Muslim)

Maka hendaknya kita berhati-hati dalam melakukan setiap amalan, apakah amalan tersebut ada dalil yang memerintahkannya, atau sesuatu yang baru (diada-adakan). Sebagaimana pesan beliau dalam haditsnya,

"Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid`ah dan setiap bid`ah itu adalah kesesatan". (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no. 25 dan hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah)

Maka sudah sepantasnya kita dalam mengerjakan suatu amalan, yang telah ada dalil untuk mengamalkannya. Dan menghindari perkara-perkara yang diadakan dalam Agama ini. Wallahua'lam.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dalam meniti jalan yang lurus, yakni jalannya para Salafus Shalih.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalaamu'alaykum,
Tulisan yang sangat mencerahkan. Saya minta izin untuk share artikel ini ke teman-teman di pengajian lokal ya. Jzk khoir.

Iwan Sugiyarto mengatakan...

Wa'alaikumsalam,,Warahmatullah,,wabarakatuh,,
Syukron atas kunjungan dan komentarnya,,,
Na'am,,Tafaddol,,.

ibaz asche mengatakan...

Assalamualaikum...
Trima kasih penjelasannya..

FullApkZ mengatakan...

Sangat bermanfaat sekali tulisannya

Posting Komentar