Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap Syari'at

Tarbiyah tadi sore (Sabtu, 26 Februari 2011) bertempat di masjid Wihdatul Ummah Jl. Abdullah dg. Sirua Makassar oleh Ust. Ardian Kamal.

QS. Ali Imran : 193
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti."

Ini adalah yang diajarkan oleh Allah kepada Kaum Muslimin. Dan sikap seorang muslim yang

benar ialah ia langsung menerima ajakan atau panggilan tersebut. Apapun seruan dari Allah maka hendaknya kita sami'na wa ato'na (Kami mendengar dan kami taat)

Dalam hadis disebutkan bahwa Umar Radhiallahu 'anhu pernah berkata “Ya Rasulullah sesungguhnya Engkau adl manusia yg paling aku cintai dari sekalian makhluk kecuali diriku sendiri.” Jawab Rasulullah saw “Tidak demi yg jiwaku ada di tangan-Nya sampai kecintaanmu kepadaku lbh dari dirimu sendiri.” Maka berkata Umar kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam “Maka sekarang saya mencintaimu lbh daripada diriku sendiri.” Kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Sekarang kamu dikatakan beriman dengann iman yang sempurna ketika kamu lebih mencintai saya daripada dirimu sendiri Wahai Umar.”

Hadits ini mengajarkan kepada kita, bagaimana kecintaan para sahabat kepada Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melebihi cinta dengan yang lainnya. Sang Umar tanpa berpikir panjang, atau berpikir sejenak untuk menyatakan Cintanya kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Namun saat itu juga Umar langsung menyatakannya.

Abu Bakar langsung rela menginfakkan seluruh hartanya untuk perjuangan karena cintanya dengan Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Suatu ketika Ibnu Umar singgah disuatu tempat dalam perjalanannya, lalu ditanya, apakah kamu sudah merasa kecapaian, padahal belum lama kita melakukan perjalanan. maka Ibnu Umar pun menjawab, "Saya singgah disini bukan karena kecapaian, tapi saya singgah ditempat ini karena Rosulullah pun pernah singgah disini."
Subhanallah, jangankan dari caranya berpakaian atau berpenampilan,matipun mereka (para sahabat) rela.

Ada juga kisah seorang wanita, disaat kaum muslimin pulang dari peperangan bersama Rosulullah, sang wanita pun berlari menemui rombongan kaum muslimin yang baru pulang dari peperangan, disampaikan bahwa Bapaknya telah meninggal, tapi yang dia tanyakan justru bagaimana keadaan Rosulullah, kemudian ada yang menyampaikan bahwa suaminya meninggal, tapi yang dia tanyakan tetap bagaimana keadaan Rosulullah, kemudian disampaikan lagi bahwa anaknya juga meninggal, namun lagi-lagi Rosulullah yang dia tanyakan. Begitulah kecintaan orang-orang sholeh dizaman dahulu kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Thalhah bin Ubaidillah yang dengan gagah berani melawan para kaum kafir dalam perang uhud demi melindungi Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dengan banyaknya luka sabetan pedang ditubuhnya, semua itu karena kecintaannya kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Rosulullah pernah bersabda,"Tiada sempurna iman seseorang sehingga ia cinta kepadaku melebihi dari anak, ayah kandungnya dan semua manusia". (HR.Bukhari-Muslim)

Jangan mencari-cari alasan untuk menghalalkan segala cara.
Sebagaimana Imam Syafi'i pernah marah ketika ada yang minta pendapatnya, padahal Rosulullah telah jelas menetapkannya.

Kisah-kisah ini menunjukkan betapa Cintanya para sahabat kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tidak ada yang bisa menyamai bahkan melebihi cintanya para sahabat kepada Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Saat ini banyak orang yang mengaku cinta dengan maulid yang mereka adakan setahun sekali. Bahkan mereka berpendapat bahwa orang yang tidak maulid tidak mencintai Nabi. Namun banyak sekali larangan-larangan yang mereka langgar, sunnah-sunnah yang mereka abaikan.

Maka kita tunjukkan siapa sebenarnya yang cinta terhadap beliau. Semoga kita tetap diberi keistiqomahan untuk dalam menjalankan sunnah-sunnah beliau.

0 komentar:

Poskan Komentar